BARRU TERASINDONEWS— Pemerintah Kabupaten Barru bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Barru mulai mengubah pendekatan dalam penanggulangan kemiskinan. Bantuan tidak lagi diarahkan sekadar untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi didorong menjadi modal yang mampu menciptakan pendapatan bagi keluarga.

Langkah tersebut ditandai dengan peluncuran Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Ekonomi Berkecukupan dan Berkelanjutan Tahun 2026, yang dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Ruang Pertemuan Lantai 2 Bapperida Barru, Jumat (11/9/2026).

Kegiatan dibuka Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., dengan mengusung tema “Bersama Membangun Kemandirian Ekonomi Menuju Keluarga Sejahtera.”

Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah bersama Baznas dan para pemangku kepentingan untuk memberikan ruang bagi masyarakat miskin dan rentan miskin agar dapat memiliki usaha, meningkatkan pendapatan dan secara bertahap keluar dari ketergantungan terhadap bantuan.

Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari mengapresiasi Wakil Bupati Barru Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si., yang menjadi salah satu penggagas program tersebut.
“Terima kasih kepada Pak Wakil Bupati, karena program ini merupakan hasil atau buah pemikiran dari Pak Wakil,” ujar Andi Ina.

Menurutnya, kemiskinan memiliki persoalan yang lebih kompleks dibanding sekadar rendahnya pendapatan. Masyarakat juga menghadapi keterbatasan akses terhadap keterampilan, modal, pasar, peluang usaha hingga kemampuan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Karena itu, pemerintah perlu menghadirkan pola pemberdayaan yang membuat masyarakat memiliki kemampuan untuk menghasilkan pendapatan sendiri.
Bantuan yang diberikan pun harus memiliki nilai produktif dan dapat dikembangkan.

“Yang tadinya mereka menjadi penerima bantuan, kita harapkan ke depan mereka tidak lagi menjadi penerima bantuan, tetapi justru mampu menjadi pihak yang memberikan bantuan kepada orang lain,” katanya.

Andi Ina menegaskan, bantuan yang diterima masyarakat harus dijaga dan dikelola secara serius. Penerima manfaat tidak boleh melihat bantuan tersebut sebagai sesuatu yang selesai setelah diterima.

Sebaliknya, bantuan harus dikembangkan sehingga dapat menghasilkan keuntungan dan menjadi modal untuk memperbesar usaha.
“Ini bukan bantuan yang habis setelah diterima. Bantuan yang diberikan harus dijaga, dikembangkan dan dikelola dengan benar,” tegasnya.

Ia juga meminta jajaran pemerintah daerah, kecamatan, desa dan kelurahan bersama Baznas melakukan pendampingan secara berkelanjutan.
Monitoring dan evaluasi diperlukan untuk memastikan usaha penerima manfaat benar-benar berkembang, bukan sekadar mencatat jumlah bantuan yang telah diserahkan.

Bagi Bupati, ukuran keberhasilan program adalah ketika penerima manfaat mengalami perubahan nyata dalam kehidupan ekonominya.
“Keberhasilan yang nyata adalah ketika beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian kita melihat usaha mereka bertumbuh, pendapatan keluarga meningkat, dan mereka mampu keluar dari kondisi kemiskinan,” ujarnya.

18 Rumah Tangga Jadi Penerima Awal
Ketua Panitia Pelaksana yang juga Kepala Bapperida Barru, H. A. Unru, ST., M.SP., mengatakan program tersebut dibangun dengan semangat kolaborasi.
Pemerintah tidak bekerja sendiri, tetapi menggandeng Baznas, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, masyarakat serta mitra pembangunan lainnya.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membuka akses masyarakat miskin dan rentan miskin terhadap berbagai sumber ekonomi, mulai dari keterampilan, permodalan, produksi, pengolahan hingga pemasaran.

Pada tahap awal, sebanyak 18 rumah tangga miskin yang berada pada desil 1 sampai 5 ditetapkan sebagai penerima manfaat dan tersebar di sejumlah kelurahan di Kabupaten Barru.
Program ini selanjutnya akan dikembangkan agar dapat menjangkau rumah tangga miskin di desa-desa dengan mengacu pada kriteria dan petunjuk teknis yang telah ditetapkan.
“Pada kesempatan ini juga kami laporkan ada sembilan desa yang telah siap melaksanakan kegiatan ini melalui dana desa,” jelas H. A. Unru.

Ayam, Itik dan Bibit Jadi Modal Awal
Pada launching tersebut, penerima manfaat juga mendapatkan bantuan usaha produktif.

Bantuan yang diserahkan meliputi 100 ekor ayam, 35 ekor itik siap bertelur, 10 polibag beserta bibit tanaman hortikultura, serta kandang dan kelengkapannya.

Bantuan tersebut dirancang sebagai modal awal yang dapat dikelola penerima manfaat untuk menghasilkan pendapatan.

Konsepnya sederhana, namun memiliki target jangka panjang: bantuan yang diterima hari ini harus mampu berkembang menjadi sumber penghasilan keluarga di kemudian hari.
Penandatanganan PKS antara para lurah se-Kabupaten Barru dengan Baznas Kabupaten Barru juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut.

Kerja sama itu diharapkan memperkuat koordinasi sekaligus memastikan proses pendataan, pendampingan dan pengawasan penerima manfaat berjalan secara terarah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Barru Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si., Ketua DPRD Barru Drs. H. Syamsuddin Muhiddin, M.Si., Sekretaris Daerah Barru Andi Syarifuddin, S.IP., M.Si., Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Drs. Fariadi Abujahja, M.M., pimpinan OPD terkait, camat, lurah, kepala desa se-Kabupaten Barru, Ketua Baznas Barru, pimpinan BUMN/BUMD serta para penerima manfaat.

Melalui program ini, Pemkab Barru dan Baznas menargetkan satu perubahan penting: bantuan bukan sekadar diterima, tetapi diputar menjadi usaha; usaha berkembang menjadi pendapatan; dan pendapatan menjadi jalan menuju keluarga yang lebih mandiri dan sejahtera.

Terasindo shared

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan