Merajut Asa di Ujung Desa: Anak-anak Palangngiseng Belajar Bersama Taman Baca Moncongna Ikatuo dan Rumah Literasi
GOWA TERASINDONEWS.– Suasana belajar yang berbeda hadir di ujung Dusun Palangngiseng, Desa Pallangga, Kabupaten Gowa, Ahad (1/2/2025). Di teras rumah sederhana dengan langit desa sebagai atapnya, anak-anak sekolah dasar duduk melingkar, menyimak huruf demi huruf yang diperkenalkan bukan sekadar sebagai pelajaran, tetapi sebagai jembatan menuju mimpi.
Kegiatan ini dihadirkan oleh Taman Baca Moncongna Ikatuo Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia bersama Rumah Literasi, sebagai bagian dari gerakan literasi yang menyasar anak-anak di wilayah pelosok. Proses belajar berlangsung akrab, diisi tawa, cerita, dan pendekatan yang membumi dari para penggerak literasi. Mereka menegaskan bahwa pendidikan dapat dinyalakan dari mana saja, selama ada kepedulian dan kemauan berbagi ilmu.
Salah satu penggiat yang terlibat adalah Kartini, mahasiswa Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Dengan metode cerita, permainan kata, dan dialog sederhana, ia membuat suasana belajar terasa hidup. Tak hanya mengajarkan membaca dan menulis, Kartini juga menanamkan keberanian bermimpi serta kecintaan pada pengetahuan sejak dini. Kehadirannya menjadi simbol peran aktif generasi muda akademik dalam kerja-kerja kebudayaan dan literasi desa.
Wajah dedikasi pendidikan juga tampak pada Dzul Rajali, Ketua Rumah Literasi sekaligus guru di SDIT MICI Pattalassang, Gowa.
Ia meyakini literasi bukan hanya urusan ruang kelas, tetapi ikhtiar panjang merawat kesadaran dan harapan masyarakat. Dengan pendekatan ramah anak dan kehadiran yang konsisten, ia menegaskan pendidikan sebagai gerakan sosial yang menjangkau yang terpinggirkan.
Sementara itu, Abdul Rauuf Muri, Ketua Taman Baca dan Perpustakaan Moncongna Ikatuo yang juga mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, memaknai kegiatan ini sebagai ikhtiar kebudayaan. Menurutnya, taman baca bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang tumbuhnya imajinasi, karakter, dan daya pikir anak-anak desa.
Gerakan literasi ini juga mendapat penguatan dari Sumarlin Rengko HR (Daeng Rengko), Ketua Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia. Ia menilai kegiatan tersebut sebagai panggilan kebudayaan untuk menjaga nyala pengetahuan dan nilai kemanusiaan di wilayah yang sering luput dari perhatian.
Menurutnya, pendidikan bermakna lahir dari perjumpaan tulus berbagai peran—mahasiswa, guru, pegiat literasi, dan warga dusun.
Keceriaan peserta tampak dari pengakuan Zahra, siswi SDN Biringkaloro.
Ia merasa belajar kali ini berbeda karena penuh cerita dan permainan, membuatnya lebih berani membayangkan masa depan.
Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan sederhana namun penuh makna. Dari halaman rumah yang menjadi ruang belajar, buku-buku yang dibaca bersama, serta kata-kata yang disemai dengan kesabaran, tumbuh keyakinan bahwa harapan bisa dirawat melalui kehadiran yang tulus. Dari ujung dusun yang sunyi, cahaya literasi terus menyala di hati anak-anak Palangngiseng.





