TERASINDONEWS – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin Gelombang 115 kembali menghadirkan solusi konkret bagi permasalahan pertanian desa. Melalui Program Kerja Individu yang diinisiasi oleh Fatmawati, dilaksanakan sosialisasi dan distribusi bibit bertajuk “Distribusi Stek Rumput Gajah (Biograss) untuk Peningkatan Ketersediaan Pakan Ternak” di Aula Kantor Desa Rompegading, Kamis (15/1/2026).
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa setempat. Kepala Desa Rompegading, Bapak Arfah, S.Pd., menyambut inisiatif positif ini sebagai langkah strategis untuk memajukan sektor peternakan warganya dan berharap program ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh masyarakat.
Acara dibuka secara resmi oleh Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Cenrana, H. Bahtiar, SP, MP Dalam Berbagai acara, beliau mengapresiasi langkah mahasiswa yang membawa teknologi Hijauan Pakan Ternak (HPT) unggul ini. “Kegiatan ini menjadi hal baru bagi kami dan terutama untuk warga. Biograss menjadi solusi nyata dengan potensi perkembangan yang luar biasa jika dikelola dengan baik. Ini kunci pertumbuhan ternak di desa kita,” ujar H. Bahtiar.
Menghadirkan Solusi 319 Ton Per Hektar
Sesi materi utama dibawakan oleh Amrin, S.Tr.Pt., Penyuluh Pertanian Desa Rompegading. Beliau memaparkan keunggulan Biograss yang memiliki potensi produksi hingga 319 ton per hektar—dua kali lipat lebih banyak dari rumput gajah biasa.
“Rumput Biograss ini teksturnya agak halus, tidak seperti rumput gajah lain yang tajam dan bisa merobek mulut ternak, sehingga sangat disenangi sapi,” jelas Amrin. Ia juga menekankan pentingnya pengolahan pasca panen. “Sebaiknya pakan dipotong atau dicacah agar lebih efisien dan berlimpah.”
Antusiasme Warga & Dukungan Akademisi
Diskusi berlangsung interaktif yang dipandu oleh Fatmawati selaku moderator. Warga menanyakan daya tahan rumput, yang dijelaskan oleh pemateri bahwa masa panen ideal adalah berumur 45 hari dan sebaiknya segera digunakan dalam 2 hari jika tanpa fermentasi untuk menjaga kualitas nutrisi.
Dalam keterangan terpisah, Dosen Pengampu KKN (DPK), Dr. Sumarlin Rengko HR, SS, M.Hum., turut memberikan apresiasi mendalam terhadap program ini. Menurutnya, program ini sangat strategis sebagai bentuk hilirisasi ilmu pengetahuan.
“Pengenalan Biograss ini bukan sekadar bagi-bagi bibit, tetapi upaya mengubah pola pikir peternak konvensional menjadi mandiri pakan dengan kualitas nutrisi yang terjamin secara ilmiah. Langkah kecil ini berdampak besar bagi ekonomi desa,” ungkap Dr. Sumarlin.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan simbolis bibit stek Biograss kepada perwakilan dusun serta edukasi teknik penanaman yang tepat untuk hasil maksimal.






