BARRU, TERASINDONEWS –Di tengah derasnya arus informasi digital, Muhammad Fadli, putra kelahiran Mallusetasi, Kabupaten Barru, memilih jalan yang sunyi namun berdampak panjang: literasi.
Hingga tahun 2026, enam buah buku telah ia lahirkan. Bukan sekadar untuk menambah rak bacaan, tetapi sebagai ikhtiar menghadirkan bacaan yang mengajak pembaca berhenti sejenak, merenung, dan berubah.
Kegelisahan terhadap minat baca masyarakat menjadi bahan bakarnya. Informasi melimpah, ceramah mudah diakses, konten dakwah bertebaran di media sosial. Namun, Fadli melihat ada yang hilang: keteladanan.
“Semesta seakan telah lelah dengan teori. Manusia tidak selalu membutuhkan ceramah tentang kesabaran, tetapi membutuhkan teladan tentang bagaimana kesabaran itu dijalankan,” tulis Prof. (H.C.) Dr. Muhammad Fadli dalam buku keenamnya.
Buku itu berjudul *“Dinamika Dakwah dalam Mencerahkan Semesta”*. Di buku ini, Fadli mencoba menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks, terutama menjaga motivasi belajar generasi muda.
Baginya, dakwah tidak lagi melulu soal mimbar dan ceramah satu arah. Seorang pedagang yang jujur adalah dakwah. Seorang ibu yang mendidik anaknya dengan kelembutan adalah dakwah. Bahkan seorang konten kreator yang menolak promosi judi online meski diiming-imingi bayaran besar, itu adalah dakwah yang nyata.
Inilah yang ia sebut dakwah yang membumi. Relevan, dinamis, dan hidup dalam perilaku sehari-hari.
Fadli menilai, masjid boleh berdiri megah, ceramah boleh menggema di setiap sudut, konten dakwah boleh memenuhi ruang digital. Tetapi semua itu akan kehilangan makna jika tidak berbanding lurus dengan akhlak.
“Di titik inilah dakwah harus bergeser. Tidak hanya di masjid, tetapi juga di ruang digital. Tidak hanya monolog, tetapi dialog yang mencerahkan,” ujarnya.
Yang menarik, buku ini tidak ditulis untuk kalangan ustaz atau mubalig semata. Pesannya universal, menyentuh siapa saja yang ingin menjadikan hidupnya sebagai bagian dari dakwah. Bahwa dakwah tidak harus dimulai dengan kata-kata. Ia bisa dimulai dari kejujuran, kepedulian, kesantunan, dan keberanian menolak keburukan.
Bagi Fadli, menulis adalah *dakwah bil-qalam*, dakwah melalui pena. Ia percaya, tulisan mampu melampaui usia penulisnya. Ketika raga telah tiada, gagasan tetap hidup, berjalan menemui pembaca dari kampung ke kampung.
Sejarah telah membuktikannya. Karya-karya Imam Al-Ghazali tetap dibaca dan menjadi rujukan ratusan tahun setelah penulisnya wafat. Buku, dalam keyakinan Fadli, adalah dakwah yang tidak mengenal waktu.
“Boleh jadi, sebuah buku dibaca seseorang di sudut kampung, lalu satu paragraf menyentuh hatinya, membuatnya menangis dan memutuskan untuk memperbaiki hidupnya. Di situlah kekuatan tulisan,” katanya.
Namun, frasa “mencerahkan semesta” yang ia usung bukan berarti mengislamkan semua manusia. Maknanya jauh lebih luas. Islam hadir sebagai _rahmatan lil ‘alamin_, rahmat bagi seluruh alam. Dakwah, karenanya, harus menghadirkan kesejukan, kemaslahatan, dan nilai kemanusiaan yang dirasakan semua.
Melalui enam bukunya, Muhammad Fadli ingin menegaskan satu hal: literasi adalah pijakan.
“Sebab umat yang membaca adalah umat yang memiliki ruang untuk berpikir. Umat yang berpikir memiliki kesempatan untuk memahami. Dan pemahaman yang baik dapat menjadi jalan menuju perubahan yang lebih baik,” pungkasnya.
Dakwah yang kuat, pada akhirnya, bukan hanya yang terdengar lantang, tetapi yang terlihat dalam tindakan. Bukan hanya dibaca, tetapi diamalkan.






