Gowa Terasindonews- Akhir pekan Ahad 15 Februari 2026 di ujung Dusun Palangngiseng, Desa Pallangga, menghadirkan suasana yang berbeda dari biasanya. Di bawah langit yang cerah dan hembusan angin yang menyapu pelataran Sekretariat Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo”, anak-anak berkumpul dalam lingkaran kebersamaan yang hangat. Tawa dan sapaan saling bersahutan, menandai sebuah perjumpaan yang tidak sekedar temu fisik, melainkan perayaan ingatan dan identitas. Dari sudut dusun yang tenang itu, semangat belajar tumbuh, menyala perlahan seperti pelita yang dirawat bersama.
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara generasi antara yang mewarisi dan yang akan mewariskan. Warga menyimak dengan antusias, menyadari bahwa di tengah arus zaman yang bergerak cepat, akar budaya tetap perlu dijaga agar tidak tercerabut. Akhir pekan itu pun menjelma menjadi momentum reflektif:tentang bahasa ibu, tentang aksara leluhur, dan tentang tekad kolektif menjaga jati diri Makassar tetap hidup dalam tuturan dan tulisan.
Pembelajaran Aksara Lontarak dan Bahasa Makassar dipaparkan dengan penuh penghayatan oleh Gr. Akbar Amri, SS, S.Pd., M.Si., seorang pendidik di SMPN 34 Kota Makassar sekaligus Direktur Pusat Alih Aksara dan Penerjemahan Bahasa Makassar.
Dengan suara yang tenang namun berwibawa, ia mengurai jejak aksara Lontarak bukan sekadar sebagai sistem tulisan, melainkan sebagai penanda peradaban. Setiap lekuk huruf dijelaskan dengan kesabaran, seolah menghidupkan kembali napas para leluhur yang dahulu menorehkannya pada daun lontar. Para peserta diajak menelusuri makna, memahami struktur, sekaligus merasakan keindahan bahasa Makassar sebagai warisan yang sarat nilai.
Tak hanya memaparkan teori, beliau juga membimbing peserta menuliskan nama dan kata hingga kalimat sederhana dalam aksara Lontarak, menghadirkan pengalaman belajar yang membumi dan menyentuh. Di sela-sela penjelasan, terselip pesan tentang pentingnya merawat bahasa ibu sebagai benteng identitas dan kebanggaan. Suasana menjadi syahdu ketika anak-anak mencoba melafalkan kosakata Makassar dengan penuh semangat, seolah menegaskan bahwa di ujung dusun Palangngiseng, bara kebudayaan itu masih menyala hangat dan penuh harapan.
Menurut Gr. Akbar Amri, SS, S.Pd., M.Si., kegiatan pembelajaran Aksara Lontarak dan Bahasa Makassar di Dusun Palangngiseng bukan sekedar agenda literasi, melainkan momentum kebudayaan yang berpijak pada kesadaran kolektif.
Ia menegaskan bahwa bahasa ibu adalah rumah pertama bagi identitas anak; di sanalah nilai, etika, dan cara pandang diwariskan secara halus namun mengakar. Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap menyeragamkan ekspresi, pembelajaran bahasa Makassar menjadi ruang perlawanan yang elegan, juga bukan dengan penolakan, tetapi dengan penguatan jati diri. Baginya, ketika anak-anak kembali mengenal aksara dan tutur leluhurnya, sesungguhnya mereka sedang meneguhkan fondasi persahabatan dari lingkup yang paling inti adalah keluarga dan lingkungan sosial.
Ia juga berpandangan bahwa pelestarian aksara Lontarak harus bergerak dari romantisme menuju praktik yang baik dan berkelanjutan. Upaya alihaksara, penerjemahan, dan pengajaran yang sistematis perlu dibangun sebagai gerakan bersama, yang melibatkan sekolah, komunitas, dan orang tua. Tanpa langkah nyata, warisan itu berisiko menjadi sekadar simbol yang dipajang tanpa dipahami. Menurutnya, kegiatan di Palangngiseng merupakan contoh kecil namun penting, bahwa ketika masyarakat diberi ruang dan akses belajar, kesadaran budaya tumbuh secara organik. Dari ujung dusun yang sederhana itulah, ia percaya, dorongan kebudayaan Makassar dapat terus hidup dan menatap masa depan dengan percaya diri.
Sumarlin Rengko HR selaku Pembina Taman Baca dan Perpustakaan Dusun “Moncongna Ikatuo” menegaskan bahwa pembelajaran aksara dan Bahasa Makassar bukan semata-mata proses mengenalkan kembali bentuk dan simbol tulisan tradisional, melainkan ikhtiar kultural untuk merawat identitas serta meneguhkan martabat kebudayaan lokal. Baginya, bahasa daerah adalah fondasi jati diri yang menyimpan nilai, etika, dan kearifan hidup masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi bahasa asing, upaya ini menjadi ruang edukatif yang strategis, tidak hanya memperkuat kemampuan literasi anak-anak, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab terhadap warisan budaya.
Lebih jauh lagi, ia memandang taman baca sebagai episentrum literasi berbasis komunitas yang berpartisipasi membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian bahasa Makassar. Pembelajaran aksara dan Bahasa Makassar di Taman Baca dan Perpustakaan “Moncongna Ikatuo” diharapkan menjadi model pemberdayaan berbasis budaya yang inklusif dan berkelanjutan, melibatkan anak-anak dalam satu gerakan bersama. Melalui sinergi antara pembina dan relawan, kegiatan ini tidak hanya memperkaya kecakapan berbahasa, tetapi juga mempererat kohesi sosial serta menghidupkan kembali semangat kebersamaan dalam merawat tradisi lokal.





